
Desa Jragung, Demak (25/07/26) – Jagung selama ini dikenal sebagai salah satu pangan lokal yang dapat diolah menjadi berbagai makanan, termasuk nasi jagung. Namun, di balik proses sederhana ketika jagung dimasak, terdapat perubahan sifat pati yang dapat dijelaskan secara ilmiah. Perspektif inilah yang dibawa mahasiswa Bioteknologi Universitas Diponegoro, Cahya Dyah Mahardani, dalam kegiatan edukasi diversifikasi pangan di Desa Jragung, Kecamatan Karangawen, Kabupaten Demak.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program “Sosialisasi Edukasi Isi Piringku melalui Perlombaan Memasak Berbasis Pangan Lokal Desa Jragung” yang mendorong masyarakat mengenal penerapan gizi seimbang sekaligus memanfaatkan bahan pangan yang tersedia di lingkungan sekitar. Konsep Isi Piringku menjadi salah satu materi utama dalam kegiatan, sementara pangan lokal digunakan sebagai bagian dari praktik pengolahan makanan.

Dalam rangka memperkuat aspek edukasi, salah satu kontribusi yang diberikan adalah pembuatan leaflet berjudul “Diversifikasi Pangan – Pangan Lokal, Gizi Maksimal.” Media tersebut memperkenalkan berbagai pangan lokal, seperti jagung, kentang, talas, umbi-umbian, dan singkong, sekaligus mengajak masyarakat melihat pangan lokal tidak hanya dari sisi konsumsi, tetapi juga dari karakteristik dan proses pengolahannya.

Sebagai mahasiswa Bioteknologi, penyusunan leaflet tersebut menjadi kesempatan untuk membawa pengetahuan dari bidang keilmuan menjadi lebih dekat dengan masyarakat. Salah satu materi yang secara khusus dimasukkan adalah gelatinisasi pati jagung. Gelatinisasi merupakan proses yang terjadi ketika pati berinteraksi dengan air dan panas selama pemasakan. Leaflet ini menjadi media untuk menyederhanakan konsep tersebut sehingga pengetahuan yang berasal dari bidang Bioteknologi dapat disampaikan secara lebih komunikatif dan masyarakat dapat memahami perubahan yang terjadi ketika jagung dimasak. Penjelasan mengenai gelatinisasi menjadi salah satu cara untuk memperkenalkan bahwa ilmu Bioteknologi dapat ditemukan dalam aktivitas sehari-hari. Proses memasak yang selama ini dilakukan secara sederhana dapat menjadi gerbang untuk memahami bagaimana pangan mengalami perubahan selama pengolahan.

kegiatan pemanfaatan pangan lokal dan edukasi gizi ini mendukung SDG 2 (Zero Hunger) melalui pengenalan pangan dan gizi seimbang, SDG 3 (Good Health and Well-being) melalui edukasi pola makan sehat, serta SDG 12 (Responsible Consumption and Production) melalui pemanfaatan pangan lokal secara optimal.
Penulis
Cahya Dyah Mahardani
Bioteknologi, Universitas Diponegoro
