Desa Jragung, 24 Juli 2026 – Keamanan pangan menjadi salah satu aspek penting dalam menjaga kualitas hasil pertanian sekaligus melindungi kesehatan masyarakat. Melihat jagung sebagai salah satu komoditas pertanian yang potensial di Desa Jragung, mahasiswa KKN-T IDBU 25 Universitas Diponegoro Putri Naira Nashwa melaksanakan program Edukasi Keamanan Pangan melalui Pencegahan Kontaminasi Aflatoksin pada Jagung disertai Penyusunan Modul Higiene Sanitasi dan Penyimpanan Jagung pada Jumat, 24 Juli 2026. Kegiatan ini dilaksanakan di Desa Jragung, Kecamatan Karangawen, Kabupaten Demak, dengan sasaran anggota Kelompok Tani Nastiti.
Program tersebut merupakan bagian dari Tema Multidisiplin 1, yaitu “Tata Pengelolaan Smart Pertanian melalui Modernisasi Irigasi Berbasis IoT, Manajemen Tani, Pascapanen, Keamanan Pangan, dan Gizi di Desa Jragung.” Kegiatan ini dirancang untuk meningkatkan pengetahuan petani mengenai pentingnya keamanan pangan, khususnya dalam mencegah risiko kontaminasi aflatoksin pada jagung melalui penerapan higiene sanitasi serta praktik penanganan dan penyimpanan hasil panen yang tepat.
Tahap awal kegiatan dilakukan melalui penyusunan modul edukasi dan materi presentasi mengenai keamanan pangan. Materi disusun untuk memberikan pemahaman yang mudah diterapkan oleh petani dalam kegiatan sehari-hari, mulai dari pengenalan aflatoksin hingga langkah pencegahannya dalam proses penanganan pascapanen.
Penyuluhan kemudian dilaksanakan menggunakan media PowerPoint dan dilanjutkan dengan diskusi interaktif bersama anggota Kelompok Tani Nastiti. Dalam kegiatan tersebut, peserta mendapatkan penjelasan mengenai pengertian aflatoksin, faktor-faktor yang dapat memengaruhi pertumbuhan jamur penghasil aflatoksin, serta dampak aflatoksin terhadap kesehatan.
Selain aspek kesehatan, peserta juga diberikan pemahaman mengenai pentingnya penerapan higiene dan sanitasi dalam proses penanganan serta penyimpanan jagung. Praktik penyimpanan yang baik menjadi salah satu langkah penting untuk menjaga kualitas hasil panen dan meminimalkan risiko kontaminasi. Peserta didorong untuk memperhatikan kondisi kebersihan tempat penyimpanan serta menerapkan penanganan jagung secara tepat agar kualitas hasil pertanian tetap terjaga.
Antusiasme peserta terlihat selama kegiatan berlangsung. Anggota Kelompok Tani Nastiti aktif mengikuti penyuluhan dan berdiskusi mengenai permasalahan yang berkaitan dengan penanganan serta penyimpanan jagung. Melalui kegiatan tersebut, peserta memperoleh peningkatan pengetahuan mengenai praktik higiene sanitasi yang baik dan upaya pencegahan kontaminasi aflatoksin.
Program ini juga mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 2: Tanpa Kelaparan, melalui upaya menjaga kualitas dan keamanan hasil pangan lokal. Edukasi keamanan pangan juga berkaitan erat dengan SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera, karena pencegahan kontaminasi pangan merupakan bagian penting dalam melindungi kesehatan masyarakat. Selain itu, peningkatan kualitas hasil panen berpotensi mendukung SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi melalui peningkatan nilai dan daya saing produk pertanian.
Sebagai bentuk keberlanjutan program, modul Higiene Sanitasi dan Penyimpanan Jagung diserahkan kepada Kelompok Tani Nastiti untuk dimanfaatkan sebagai media edukasi secara berkelanjutan. Kelompok tani diharapkan dapat menerapkan praktik penanganan dan penyimpanan jagung sesuai prinsip higiene sanitasi guna meminimalkan risiko kontaminasi aflatoksin.
Tidak berhenti pada peserta kegiatan, pengetahuan yang diperoleh juga diharapkan dapat disebarluaskan kepada anggota kelompok tani lainnya. Dengan demikian, edukasi keamanan pangan dapat memberikan manfaat yang lebih luas dan mendorong terbentuknya praktik pascapanen yang lebih baik.
Melalui program ini, jagung tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan kuantitas panen yang tinggi, tetapi juga kualitas yang aman, sehat, dan bernilai ekonomi. Penerapan higiene sanitasi dan penyimpanan yang tepat diharapkan menjadi langkah nyata dalam mewujudkan tata kelola pertanian yang lebih berkelanjutan di Desa Jragung.
