Edukasi HPP Dukung Inovasi Dimsum Jagung dan Pertumbuhan Ekonomi Masyarakat Desa Jragung serta SDGs 2 & 8

k1 07 a2 g1

 

Jragung, 23 Juli 2026 — Pemanfaatan potensi pangan lokal terus dikembangkan sebagai salah satu upaya mendukung diversifikasi dan ketahanan pangan rumah tangga di Desa Jragung. Melalui program kerja multidisiplin 1, Kelompok 1 Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) IPTEK Desa Binaan Universitas Diponegoro (IDBU) 25 mengembangkan inovasi Dimsum Jagung dalam program kerja bertajuk “Optimalisasi Potensi Jagung Lokal melalui Inovasi Dimsum Jagung sebagai Upaya Mendukung Diversifikasi dan Ketahanan Pangan Rumah Tangga”. Kegiatan dilaksanakan pada Kamis, 23 Juli 2026, bertempat di Posko 1 KKNT IDBU-25.

 

Dalam rangkaian program tersebut, mahasiswa memberikan “Edukasi Perhitungan Harga Pokok Produksi (HPP) sebagai Dasar Penentuan Harga Jual Produk Dimsum Jagung” kepada ibu-ibu di Desa Jragung, khususnya RW 10 dan RW 04. Program ini mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) 2: Tanpa Kelaparan (Zero Hunger) melalui pemanfaatan pangan lokal dan diversifikasi produk pangan, serta SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi (Decent Work and Economic Growth) melalui penguatan pengetahuan masyarakat dalam mengembangkan produk pangan lokal sebagai peluang usaha.

 

k1 01 a2 g2

 

Edukasi ini diberikan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya melakukan pencatatan dan perhitungan biaya produksi sebelum menentukan harga jual suatu produk. Dalam praktiknya, pelaku usaha sering kali hanya memperhitungkan biaya bahan baku, sementara biaya tenaga kerja serta biaya pendukung produksi seperti gas dan listrik belum selalu dimasukkan dalam perhitungan. Kondisi tersebut dapat menyebabkan harga jual yang ditetapkan belum mampu mencerminkan seluruh biaya yang dikeluarkan selama proses produksi.

 

Kegiatan diawali dengan pengisian pre-test untuk mengetahui pemahaman awal peserta mengenai HPP. Selanjutnya, mahasiswa menyampaikan materi mengenai pengertian Harga Pokok Produksi serta komponen biaya yang perlu diperhitungkan, yaitu biaya bahan baku, biaya tenaga kerja, dan biaya overhead produksi.

 

k1 01 a2 g3

k1 01 a2 g4

 

Peserta kemudian diajak mengikuti simulasi perhitungan HPP produk dimsum jagung berdasarkan contoh biaya produksi yang telah disiapkan. Melalui simulasi tersebut, peserta belajar menjumlahkan seluruh biaya produksi dan menghitung biaya yang diperlukan untuk menghasilkan setiap produk. Hasil perhitungan tersebut kemudian digunakan sebagai dasar untuk menentukan harga jual dengan mempertimbangkan margin keuntungan yang diinginkan.

 

Penyampaian materi berlangsung secara interaktif melalui diskusi dan tanya jawab. Peserta juga diberikan kesempatan untuk menyampaikan pengalaman mereka dalam menentukan harga jual produk. Dari kegiatan tersebut, terlihat bahwa sebagian peserta belum terbiasa mencatat seluruh komponen biaya produksi, terutama biaya tenaga kerja dan biaya overhead produksi. Kondisi tersebut menjadi salah satu tantangan dalam penyampaian materi sehingga penjelasan disesuaikan dengan bahasa yang lebih sederhana dan menggunakan contoh yang dekat dengan kegiatan usaha sehari-hari.

 

k1 01 a2 g5

 

Meskipun terdapat keterbatasan waktu yang membuat latihan perhitungan HPP belum dapat dilakukan secara lebih mendalam pada setiap peserta, kegiatan tetap berlangsung dengan antusias. Peserta mengikuti rangkaian kegiatan secara aktif, mulai dari pengisian pre-test, penyampaian materi, simulasi perhitungan, hingga diskusi.

 

Kegiatan ditutup dengan pengisian post-test untuk mengetahui perubahan pemahaman peserta setelah mengikuti edukasi. Melalui kegiatan ini, masyarakat memperoleh pengetahuan mengenai pentingnya menghitung HPP, mengidentifikasi seluruh komponen biaya produksi, serta menentukan harga jual produk secara lebih tepat.

 

Edukasi HPP menjadi salah satu bagian yang melengkapi pengembangan Dimsum Jagung dalam program multidisiplin KKNT IDBU-25. Jika pemanfaatan jagung lokal melalui inovasi dimsum berkontribusi pada SDGs 2, maka kemampuan masyarakat dalam menghitung biaya produksi dan menentukan harga jual turut mendukung SDGs 8 dengan membuka peluang pengembangan produk pangan lokal menjadi kegiatan ekonomi yang lebih terukur.

 

Melalui integrasi aspek pangan dan ekonomi tersebut, program multidisiplin KKNT IDBU-25 diharapkan dapat mendorong pemanfaatan potensi jagung lokal Desa Jragung secara lebih optimal, tidak hanya sebagai bagian dari diversifikasi pangan rumah tangga, tetapi juga sebagai produk yang memiliki nilai tambah dan potensi ekonomi bagi masyarakat.

 

Penulis

Cantika Eka Nur Azizah

Akuntansi, Universitas Diponegoro