
Jragung, 23 Juli 2026 – Jagung unyil mungkin sudah biasa dijual langsung ke pengepul atau dijadikan pakan ternak oleh warga Desa Jragung. Namun, siapa sangka komoditas lokal tersebut dapat diolah menjadi dimsum yang tidak hanya enak, tetapi juga berpotensi menjadi produk pangan bernilai tambah?
Potensi tersebut diperkenalkan oleh Kelompok 1 Tim KKNT IDBU-25 Universitas Diponegoro melalui program kerja Multidisiplin 1 yang berjudul ‘Kelas Memasak dan Edukasi Pangan Lokal’ yang bertempat di Posko 1 Dukuh Krajan, Desa Jragung, Kecamatan Karangawen pada Kamis (23/7). Kegiatan ini mengajak masyarakat melihat jagung unyil dari sudut pandang yang berbeda. Bukan sekadar komoditas pertanian yang dijual mentah, melainkan bahan lokal yang dapat dikreasikan menjadi beragam produk olahan, yang mana sejalan dengan SDGs 2 (Zero Hunger).

Acara yang dihadiri oleh Ibu Kepala Desa Jragung, Bapak dan Ibu Ketua RW 10, serta Ibu-ibu Rumah Tangga tersebut diawali dengan pengerjaan pre-test untuk mengetahui sejauh mana pemahaman peserta mengenai pemanfaatan jagung sebagai bahan pangan olahan. Setelah itu, peserta memperoleh edukasi mengenai potensi jagung unyil sebagai salah satu komoditas lokal Desa Jragung yang dapat dikembangkan menjadi produk bernilai tambah.
Dalam sesi tersebut, dijelaskan bahwa pemanfaatan bahan pangan lokal tidak harus berhenti sebagai bahan mentah. Melalui kreativitas dan pengolahan yang tepat, jagung unyil dapat dikembangkan menjadi produk yang lebih beragam dan memiliki peluang untuk dikenalkan sebagai alternatif usaha pangan, salah satunya adalah dimsum jagung. Setelahnya, dilakukan pemutaran video mengenai proses pembuatan dimsum jagung untuk memberikan gambaran mengenai produk yang dibuat. Lalu terdapat pembagian brosur berisi resep dimsum jagung agar peserta dapat mencoba kembali proses pembuatannya secara mandiri di rumah.
Suasana kegiatan semakin interaktif ketika memasuki sesi demo memasak. Peserta tidak hanya duduk menyaksikan proses pembuatan dimsum, tetapi berkesempatan untuk terlibat langsung dalam setiap tahap pengolahan. Dengan pendampingan mahasiswa KKN, peserta bersama-sama mengikuti proses pembuatan adonan hingga mencoba membentuk dimsum.

Setelah dimsum matang, kegiatan berlanjut pada tahap pengemasan. Pada sesi ini, peserta diperkenalkan akan pentingnya kemasan agar produk tetap terjaga dan terlindung dari kontaminasi, serta mendukung daya tarik suatu produk. Dimsum yang telah dibuat kemudian dicicipi bersama oleh seluruh peserta, yang menjadi penutup dari proses praktik yang dilakukan sebelumnya.

Untuk melihat pemahaman peserta, kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pengerjaan post-test. Hasil evaluasi tersebut menjadi salah satu bagian untuk melihat sejauh mana edukasi dan praktik yang diberikan dapat dipahami oleh peserta. Rangkaian kegiatan ditutup dengan sesi foto bersama mahasiswa KKN, peserta, dan pihak yang terlibat.
Melalui kegiatan ini, jagung unyil tidak hanya diperkenalkan sebagai salah satu hasil pertanian lokal Desa Jragung, tetapi juga sebagai bahan yang dapat dikembangkan menjadi produk pangan kreatif. Pengolahan menjadi dimsum menunjukkan bahwa komoditas lokal dapat memiliki bentuk pemanfaatan yang lebih beragam ketika dipadukan dengan inovasi dan pengetahuan pengolahan pangan.
Lebih dari sekadar mengenalkan resep baru, kegiatan ini diharapkan dapat mendorong masyarakat untuk melihat potensi bahan pangan yang tersedia di lingkungan sekitar sebagai peluang untuk menghasilkan produk bernilai guna dan bernilai jual. Kegiatan ini diharapkan menjadi langkah awal untuk membuka peluang pengembangan olahan jagung berbasis potensi lokal.
Salah satu peserta menyampaikan bahwa beliau memperoleh pengalaman dan pengetahuan baru dari kegiatan tersebut.
“Acara yang diselenggarakan oleh adik-adik KKN UNDIP ini cukup menarik. Kami jadi mendapat pengetahuan baru tentang pengolahan jagung menjadi produk yang lebih inovatif. Semoga edukasi ini bisa menjadi modal usaha yang nantinya mampu meningkatkan perekonomian warga sekitar.”
Kegiatan ‘Kelas Memasak dan Edukasi Pangan Lokal’ turut mendukung tercapainya Sustainable Development Goals (SDGs) 2: Zero Hunger melalui upaya memperkuat ketahanan pangan berbasis potensi lokal. Pemanfaatan jagung unyil sebagai bahan pangan alternatif mendorong masyarakat untuk mengenali dan mengoptimalkan sumber pangan yang tersedia di Desa Jragung, sekaligus memperluas pilihan konsumsi pangan. Upaya tersebut diharapkan dapat mendukung kemandirian pangan masyarakat sekaligus meningkatkan pemanfaatan komoditas lokal secara berkelanjutan.

Penulis
Marwa Itsriya
Teknologi Pangan, Universitas Diponegoro
