

Menjaga produk pangan lokal tidak cukup hanya dengan menghasilkan produk yang bernilai ekonomi. Kebersihan, mutu, dan risiko kontaminasi juga menjadi bagian yang perlu diperhatikan. Perspektif tersebut dibawa mahasiswa Bioteknologi Universitas Diponegoro, Cahya Dyah, melalui edukasi keamanan pangan dan sanitasi dalam pengembangan teh rambut jagung di Desa Jragung, Kecamatan Karangawen, Kabupaten Demak.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program KKN-T IDBU 25 UNDIP berjudul “Optimalisasi Nilai Ekonomi Limbah Pertanian Desa Jragung melalui Inovasi Teh Rambut Jagung sebagai Produk Pangan Fungsional Bernilai Gizi Berbasis Pendekatan Multidisiplin dan Berdaya Saing melalui E-Commerce” yang dilaksanakan di Balai Desa Jragung pada 18 Juli 2026. Program ini mendorong pemanfaatan rambut jagung yang seringkali dibuang sebagai limbah menjadi produk teh herbal yang memiliki nilai guna dan ekonomi.
Dalam kegiatan tersebut, salah satu kontribusi yang diberikan adalah penyusunan buku saku produk sebagai panduan praktis bagi masyarakat yang memuat informasi mengenai pengenalan rambut jagung, proses pengolahan, penyimpanan, hingga pemasaran produk. Terdapat bagian yang dikembangkan dalam buku saku ini yaitu edukasi mengenai keamanan pangan dan sanitasi. Materi tersebut menekankan pentingnya mencuci tangan, menggunakan alat yang bersih dan kering, serta mencegah paparan debu, serangga, dan hewan selama proses pengolahan. Hal ini diperlukan untuk mengurangi risiko kontaminasi dan membantu mempertahankan mutu produk.

cover dan tampilan materi buku saku pembuatan teh rambut jagung
Perspektif mikrobiologi juga diperkenalkan melalui pembahasan mengenai faktor yang dapat menurunkan kualitas teh rambut jagung. Dalam kondisi lembap, mikroorganisme seperti jamur dan bakteri lebih berpotensi berkembang sehingga dapat menyebabkan perubahan warna, aroma, serta menurunkan keamanan pangan produk. Rambut jagung juga perlu dikeringkan secara optimal sebelum dikemas untuk membantu menekan pertumbuhan jamur dan bakteri selama penyimpanan. Selain keamanan pangan, buku saku turut memperkenalkan prinsip First In First Out (FIFO) dalam pengelolaan produk. Prinsip ini mengarahkan agar produk yang dibuat lebih dahulu digunakan atau dijual lebih dahulu sehingga persediaan tidak tertinggal terlalu lama dan risiko produk melewati masa simpannya dapat diminimalkan.
Pendekatan ini melengkapi rangkaian program KKN-T yang mencakup pengolahan rambut jagung hingga menjadi produk siap jual serta pengenalan pemasaran melalui platform digital. Juga mendukung SDG 2, SDG 8, serta SDG 12 melalui pemanfaatan limbah rambut jagung secara lebih optimal dan berkelanjutan.
Buku saku pembuatan teh rambut jagung dapat diakses melalui bit.ly/BukusakuTehRambutJagung
Penulis
Cahya Dyah Mahardani
Bioteknologi, Universitas Diponegoro
